
Sebelum pulang ke Indonesia, papa beli kamera digital Nikon Coolpix 2000 di Akihabara, jadi photo-photo berikutnya sudah dalam format digital. Sebelumnya pakai kamera seluloid Nikon F801 yang papa beli waktu kuliah di Jepang dulu sekitar tahun 1992 . Mungkin jaman kalian besar nanti sudah banyak yang tidak tahu apa itu kamera seluloid. Kamera seluloid beda dengan digital karena memakai lembaran film dalam bentuk gulungan (roll) film yang harus dimasukkan kedalam body kamera. 1 roll bisa untuk ambil 12, 24 atau 36 photo,
Roll setelah habis harus beli dan isi lagi. Untuk lihat hasil photo juga mesti dibawa ke tempat cuci cetak photo dulu, gak bisa dilihat langsung di monitor. Photo juga gak bisa dihapus dari film jadi hanya sekali pakai. Kebayangkan jaman seluloid ambil photo nggak bisa asal ambil, lalu lihat hasilnya dan kalau gak suka bisa dihapus seperti kamera digital. Hasil cuci photo biasa disebut "klise". Klise ini bisa disebut sebagai "master" photo, jadi sewaktu-waktu bisa untuk cetak photo lagi. Kalau jaman digital semacam file jpg nya. 1 lembar klise memanjang berisi sekitar 6 master photo. Tidak seperti file digital, nyimpan klise repot, klise lama punya papa juga gak tahu ada dimana, mungkin di laci-laci lemari buku atau pakaian. Klise juga mudah rusak atau tergores, sudah gitu tidak bisa di-copy lagi.
Ini photo teman papa. 5 hari pertama sih papa menginap di hotel bagus di belakang Tokyo Tower ... sayang papa agak lupa namanya, sepertinya Tokyo Prince. Setelah itu papa pindah ke hotel murah dan sempit di depan stasiun Tokyo, namanya hotel Haimat (mungkin dari bahasa Indonesia "hemat" kali ya).
Oh ya walau cuma 1 minggu di Jepang, papa kangeeen ..... banget sama Dimas (4thn 8 bln), Dinda (1 thn) dan Mama. Waktu itu Mr. Yoyoi alias Dio belum lahir. Waktu pulang ke Indonesia, papa seneng banget kalian dan mama jemput papa di bandara Sukarno Hatta.
Nih photo-photonya.